Pentas Perdanaku
Friday, May 19th, 2006Kemarin malam, tepat malam jumat tanggal 18 Mei 2006, aku melaksanakan konser panggung perdanaku. Aku bahagia melihat antusiasme penonton yang tak lain adalah penggemar-penggemarku. Mungkin di antara mereka yang melihat aksi panggungku, banyak yang mencercaku karna mereka menganggap goyanganku erotis. Tapi goyang "puting beliung" yang sudah menjadi trade mark ku bahkan sejak aku duduk di bangku SMP memang berhasil membius para penonton pada konser perdanaku malam jumat kemarin.
Mungkin sebagian besar orang bertanya, kenapa konser perdanaku dilaksanakan pada malam jumat dan bukannya malam minggu seperti konser2 dangdut biasanya. Itu karena aku sekaligus ingin mempromosikan single keduaku yang aku yakin akan menjadi hits di masa yang akan datang. Single keduaku berjudul MAJUWON alias malam jumat kliwon. Lagu ini bercerita tentang kisah nyata diriku ketika aku bertemu dengan pemuda idaman hati. Aku bertemu dirinya ketika aku menonton pentas dangdut di malam jumat kliwon, cintapun bersemi. Akhirnya aku menemukan cinta sejatiku setelah aku merana karena dikhianati oleh lelaki berlidah ular yang kemudian menginspirasikanku untuk menjadikannya sebuah lagu. Lidah ular sudah tidak asing lagi bagi telinga penggemarku karena single pertamaku itu sudah menjadi hits dimana-mana, bahkan di MTV Salam Dangdut sekalipun.
Tapi aku akan bercerita tentang peristiwa (atau bisa disebut tragedi) pada malam konserku. Aku bernyanyi dengan menggunakan gaun rancangan designer kostum dangdut tersohor se-antero Bollywood, namanya Sonia Dulkahoj. Sonia Dulkahoj ini tidak lain adalah sepupu dari artis Bollywood Kajol. Dia begitu mengerti seleraku. Aku mencintai kostum berpayet sepenuh hatiku. Seluruh barang-barang milikku semuanya berkelap-kelip bagai intan berlian. Pernah suatu malam ada orang yang berniat merampok rumahku karena dia melihat sinar kekilauan dari dalam rumahku yang dikiranya adalah intan berlian, tetapi begitu kecewanya dia begitu tahu bahwa kilau itu bukanlah intan berlian, namun payet-payet yang sedang berserakan di halaman. Oh iya, kembali lagi. Dengan kostum berpayet berwarna dasar ungu tua, dan sepatu dengan rancangan khas yang hak-nya di depan, aku bergoyang sampai kesetanan dan lupa daratan. Aku mabuk kepayang, hilang kendali, tiba-tiba aku sadar bahwa aku tidak lagi berada di atas pentas tetapi aku terjungkal jatuh dari panggung. Hak depan sepatuku patah dan mengenai jambul penggemarku yang lumayan ganteng. Kakiku keseleo, kostum rancangan Sonia robek sampai punggungku terlihat umum. Aku maluuuu sekali, aku tobat, lain kali aku harus pake beha. Untung saat itu tidak ada stasiun TV yang menayangkan secara live, kalau ada pasti Emak sudah tidak menganggap aku sebagai anaknya. Lebih baik aku langsung menggali tanah saja di tempat.
Aku berlari ke belakang panggung meminta pertolongan sambil air mataku bercucuran deras. Namun, aku tetap berharap bahwa show keduaku nanti akan berjalan mulus dan aku juga berharap supaya aku tidak kehabisan orderan manggung di lain waktu.